Sikap Muslim Terhadap Tradisi Perayaan Keagamaan Agama Lain (Materi Khutbah Jumat)

 

Sikap Muslim Terhadap Tradisi Perayaan Keagamaan Agama Lain

 

Oleh : Dr. H. Ahmad Muhammad Kasim, M. Kes

Khutbah Jumat, 28 Januari 2022 M

Masjid Jami Al Amin Weri Larantuka


Maasiral Muslimin Wajumratussalihiin Rahamkumullah

Tak henti-hentinya kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam; karunia yang teramat besar yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya. Semoga kita selalu termasuk yang mendapatkan hidayah-Nya serta berada dalam keadaan Iman dan Islam hingga akhir hayat kita.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, hari ini kita berada pada Jumat ke-4 di tahun 2022 miladiyah, hari Jumat terakhir di bulan Januari 2022 miladiyah dan In syaa Allah beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Februari 2022 M. Ada beberapa tradisi keagaaman umat agama lain di luar Islam untuk memuja dan memuji orang-orang suci dan Tuhan mereka sepanjang bulan Januari dan Februari setiap tahunnya namun faktanya banyak umat Islam yang ikut merayakannya dan sangat disayangkan dengan alasan transformasi sosial budaya dan kebersamaan beberapa umat Islam yang menjadi pelopor perayaan tersebut. Naudzubillahi min zalik. Tradisi keagamaan yang dimaksud adalah Perayaan pergantian tahun baru masehi yang diperingati oleh kaum Nashrani yang terjadi setiap tanggal 1 Januari atau yang biasa dikenal dengan sebutan malam tahun baru, kemudian pergantian tahun baru China yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa atau yang disebut dengan hari raya Imlek yang tahun ini akan terjadi pada tanggal 1 Februari 2022, dan ketiga adalah perayaan hari kasih sayang yang dilakukan oleh umat nashrani atau yang dikenal dengan valentine day. Ketiga tradisi perayaan ini bukan ajaran Islam, hal ini penting untuk diketahui agar kita sebagai kaum muslimin yang terikat oleh aturan syariat dalam berinteraksi dengan non nuslim, tidak salah dalam bersikap. Sebab, seluruh ucapan dan perbuatan kita, sikap dan perilaku, serta kegiatan kita dalam hidup sehari-hari, seluruhnya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

Kaum muslimin rahimakumullah.....

Melalui khutbah Jumat yang singkat ini khatib akan membahas sedikit tentang sejarah dari ketiga perayaan tersebut dan bagaimana sikap umat Islam yang seharusnya.

Yang pertama, Perayaan malam tahun baru masehi.....

Sejarah mencatat bahwa tidak ada satupun riwayat dalam islam yang menceritakan tentang perayaan malam pergantian tahun masehi. Perayaan tahun baru tercatat pertama kali dilakukan oleh masyarakat Mesopotamia sekitar 4.000 tahun yang lalu. Pada masa itu, tahun baru yang mereka rayakan jatuh setiap akhir bulan Maret, pada masa pergantian musim. Mereka mengikuti tradisi keagamaan yang disebut Akitu. Tradisi ini dilakukan selama 11 hari berturut-turut dengan berbagai rangkaian ritual yang berbeda-beda pada tiap harinya. Masyarakat mengarak patung-patung dewa ke jalan-jalan kota dan mereka percaya dengan cara ini, mereka telah dibersihkan untuk mempersiapkan tahun baru dan musim semi baru. Referensi yang lain menuliskan bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang nasrani atau pun agama lainnya. Sejak masuknya ajaran agama nasrani ke Eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal. Kemudian berkembang sampai jaman Romawi kuno ketika kaisar Julius Caesar berkuasa, ia menetapkan 1 Januari sebagai hari pertama tahun untuk menghormati Dewa Janus.

Kaum muslimin, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama non muslim. Namun masih ada saudara kita atau bahkan kita sendiri ikut merayakan dengan cara-cara yang dilarang agama, kita menggelontorkan dana besar-besaran untuk membeli petasan, kembang api dan terompet bahkan ada juga yang berfoya-foya dengan pesta miras, joget bahkan perkelahian. Dan lebih parahnya lagi hal ini dilakukan di depan keluarga, di hadapan isteri yang saleha dan anak-anak yang masih sangat lugu. Naudzu billahi minzalik summa naudzu billah. Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya mengatakan :

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

“Sesungguhnya, Allah membenci tiga hal kepada kalian, kabar burung, membuang-buang harta, dan banyak bertanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam Al Qur’an surah Al Isra ayat 27, Allah SWT mengingatkan orang-orang suka berboros,

إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isra’/17: 27)

Dengan demikian maka perayaan malam tahun baru hukumnya haram. Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun baru tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang non-muslim. Sekedar menyerupai saja sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

 

Maa’syiral muslimiin jamaah shalat Jumat rahamakumullah

Perkara yang kedua adalah perayaan tahun baru Cina atau yang dikenal dengan hari raya Imlek. Semenjak era presiden Abdurrahman Wahid, hari raya Imlek bebas dilaksanakan secara terbuka. Dan pada tahun 2002 di era presiden Megawati, hari raya Imlek telah dijadikan sebagai hari libur nasional dengan demikian maka masyarakat umum memandang bahwa Imlek merupakan sebuah festival budaya biasa tanpa ada kaitannya dengan keyakinan tertentu. Pertunjukan atraksi baronsai, nyala lampion yang berwarna warni, ada angpao berwarna merah dianggap sebagai festival budaya biasa. Persepsi ini keliru, persepsi ini salah besar, sebab budaya Tionghoa mencerminkan nilai luhur, kebiasaan dan bakti kepada leluhurnya. Imlek merupakan bagian dari kepercayaan agama mereka. Orang Tionghoa mempunyai 3 pandangan keagamaan yaitu, Kunfusianisme, Bhudisme, dan Taoisme. Ketiga pandangan ini saling berdampingan satu sama lain, damai dalam kerukunannya. Ajaran Khonghucu memasukkan perayaan tradisi Imlek menjadi salah satu ibadahnya yaitu sembahyang Imlek. Di sini ajaran Khonghucu lebih menekankan kepada ritual praktik ibadahnya. Dalam ajaran Tao, saat perayaan Imlek, umat Tao diharuskan untuk melakukan pemujaan pada leluhur. Dengan demikian, hari raya Imlek itu pada dasarnya berangkat dari sebuah keyakinan agama, apakah Konghucu atau Taoisme.

Kaum muslimin,.... Pertanyaan yang kemudian mencuat adalah bagaimana sikap seorang muslim terhadap perayaan Imlek? Mengenai hal ini sebagian ulama berpendapat bahwa “Seorang muslim tidak boleh terlibat dengan non muslim dalam hari raya mereka semacam ini. Mereka berdasar pada firman Allah SWT dalam surat Al-Furqan ayat 72,

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا – ٧٢

Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya (QS. Al Furqan : 72)

Syaikh Ibnu ‘Athiyyah Al-Andalusi rahimahullah dalam kitab Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsiri Kitabil ‘Aziz mengatakan, ”Ungkapan يَشْهَدُوْنَ di tempat ini sudah jelas. Maknanya adalah يشاهدون ويحضرون menyaksikan dan menghadiri, sedangkan yang dimaksud dengan الزُّورَ adalah segala hal yang batil (bertentangan dengan kebenaran dan tidak ada faedahnya), dusta dan keindahan palsu.”

Dengan demikian jelaslah hukum menghadiri dan menyaksikan perayaan seperti ini. Yang jelas, hal itu akan menambah jumlah para pengikut kebatilan dan rentan tertimpa kemurkaan Allah yang turun kepada mereka. Dalam hadits yang lain Rasulullah melarang bahkan mengharamkan umat Islam untuk memperbanyak pengikut kebatilan sehingga jumlah para pengikut kebatilan menjadi melimpah, meskipun tanpa ikut serta dalam keyakinan mereka, keinginan mereka dan perbuatan mereka.

Jamaah jumat rahimakumullah

Perkara yang ketiga adalah perayaan hari kasih sayang atau valentine day

Sejarah dari Valentine’s Day dan manusia suci atau santo-nya sebenarnya masih menjadi misteri. Beberapa referensi menyebutkan hari valentine jatuh setiap tanggal 14 Februari. Jutaan orang di berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia merayakannya. Hari tersebut dirayakan dengan berbagai cara. Ada yang saling mengirim ungkapan kasih sayang, baik berupa kata-kata, bunga, cokelat atau yang lainnya, kepada orang-orang yang mereka cintai. Hingga ada yang sampai pada taraf melakukan perzinaan antara pria dan wanita, terutama di kalangan remaja dan pemuda di malam hari Valentine’s Day. Alasannya, sebagai ungkapan rasa kasih sayang. Tetapi siapa santo misterius ini dan dari mana tradisi ini berasal? Tidak ada literatur yang menyebutnya secara pasti. Namun gereja Katolik mengakui setidaknya ada tiga santo yang berbeda, bernama Valentine atau Valentinus, yang semuanya menjadi martir. Salah satu legenda menyatakan bahwa Valentine adalah seorang pendeta yang bertugas selama abad ketiga di Roma. Ketika Kaisar Claudius II memutuskan bahwa pria lajang menjadi prajurit lebih baik daripada mereka yang memiliki istri dan keluarga, dia melarang pernikahan untuk pria muda. Karena menyadari ketidakadilan dekrit itu maka Valentine menentang Claudius dan terus mengadakan pernikahan untuk para pasangan muda secara rahasia. sampai tindakan Valentine diketahui Claudius sehingga memerintahkan agar Valentine  dihukum mati. Dan untuk menghormati Valentine maka dilakukan perayaan valentine dengan bertemakan kasih sayang.

Jamaah Jumat Rahimakumullah....

Dalam sebuah kajian tentang Perempuan dan Ketahanan Keluarga di bulan Februari 2021, Ketua Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi menyampaikan fakta bahwa sejak sepuluh tahun terakhir, ternyata alat kontrasepsi berupa kondom penjualannya meningkat tajam di malam hari Valentine. Fenomena ini tentu bukanlah suatu kebetulan semata. Tentunya ada maksud dari orang-orang yang beramai-ramai membeli kondom di momen Valentine tersebut. Apalagi jika bukan untuk melakukan hubungan seks agar tidak hamil.? Fakta ini sungguh mengerikan dan sangat memprihatinkan. Telah terjadi degradasi moral di kalangan generasi muda yang mayoritas muslim di negeri ini, sampai pada taraf melakukan zina secara rutin sudah dianggap biasa, terutama pada hari kasih sayang tersebut. Naudzu billah suma naudzu billah.

Kaum muslimin..... Telah jelas bagi kita tentang sejarah Valentine’s Day. Ia bersumber dari perayaan para penyembah dewa, dan kemudian diakomodasi oleh gereja dan dijadikan sebagai hari raya untuk menghormati salah seorang santo bernama Valentine. Majlis Ulama Indonesia dalam fatwanya nomor 3 tahun 2017 telah menegaskan bahwa haram bagi umat Islam merayakan Hari valentine. Ada tiga pertimbangan MUI melarang umat Islam merayakan Valentine’s Day yaitu:

1.    Valentine’s Day bukan hari raya Islam.

2.    Dalam perayaan hari valentine sering terdapat ungkapan kasih sayang berlebihan hingga menjerumuskan kaum muda kepada pergaulan bebas seperti seks bebas.

3.    Bila umat Islam ikut merayakannya berarti menoleransi kemaksiatan atau termasuk mendorong kepada kemaksiatan menjadi perkara lumrah atau boleh dilakukan.

 

Allah SWT memerintahkan agar seorang muslim memegang teguh jati dirinya sebagai muslim, berperilaku sesuai dengan keyakinan Islam dan menolak untuk mengikuti keyakinan non muslim atau bertasyabbuh.

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ – ٦٤

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.” (QS. Ali Imran : 64).

Sebagai kaum muslimin yang taat kepada Allah, hendaknya kita dan keluarga kita menghindari sejauh mungkin terlibat dalam perayaan Valentine’s Day. Ciri khas orang mukmin yang baik adalah tunduk dan patuh terhadap ketentuan syariat Islam, berpegang teguh kepadanya dan tidak mengikuti hawa nafsunya atau hawa nafsu kebanyakan orang. Kita harus senantiasa ingat bahwa Islam adalah Diinur rahmah, agama kasih sayang. Islam melarang umatnya menzhalimi dirinya sendiri dan orang lain meskipun non muslim, apalagi saudaranya seagama dan keluarganya. Hal ini dilakukan setiap saat dan secara terus menerus tak kenal hari. Oleh karenanya, umat Islam tidak butuh kepada perayaan hari tertentu untuk mengungkapkan kasih sayang, karena hal itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keyakinannya dan perilakunya sehari-hari.

Maasyiral muslimiin rahimakumullah.....

Allah tidak melarang umat Islam berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi dalam urusan agama dan tidak mengusir umat Islam dari kampung halamanya. Namun tidak semestinya kita mencampur adukkan antara bermuamalah atau interaksi sosial dengan mereka, dengan masalah menunjukkan kasih sayang kepada mereka namun dengan mengorbankan akidah dan agama kita. Kita meyakini bahwa keyakinan mereka itu batil dari sudut pandang ajaran Islam. Sementara hari raya keagamaan merupakan syiar yang paling menonjol dari agama. Ikut serta bersama-sama dengan dengan orang-orang kafir dalam hari raya mereka merupakan sebuah bentuk saling menolong dalam dosa dan permusuhan. Yang wajib atas setiap muslim adalah meninggalkan hal tersebut. Tidak selayaknya bagi orang yang berakal itu tertipu oleh perbuatan kebanyakan orang. Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am 116

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ – ١١٦

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. (QS. Al-An’am: 116).

Kaum muslimin, semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk meninggalkan perbuatan yang sia-sia dan menghindari tipu daya orang-orang kafir. Semoga kita menjadi hamba Allah yang berhasil dalam mempersiapkan kehidupan kita,  yang mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dan Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang wafat dalam keadaan husnul khatimah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Tua adalah Guru Yang Utama

Vaksinasi Covid 19 Sebagai Ikhtiar Dalam Ketaatan Kepada Allah SWT

Renungan Pergantian Tahun Baru Masehi (Materi Khutbah Jumat)