Vaksinasi Covid 19 Sebagai Ikhtiar Dalam Ketaatan Kepada Allah SWT

 

Oleh : Dr. H. Ahmad Muhammad Kasim, A.Kep,. Kes

Khutbah Jumat, 10 September 2021 M / 3 Safar 1443 H

Di Masjid Jami Al Amin Weri Larantuka

 

 

Maasiral muslimin wajumratussalihiin rahamkumullah

Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim atas segala  limpahan nikmat-Nya. Terutama nikmat Iman dan nikmat Islam. Dengan nikmat inilah kita dimudahkan oleh Allah SWT untuk datang ke masjid yang mubarak ini untuk melaksanakan shalat Jumat dan in syaa Allah memperoleh keberkahan atas keutamaan hari Jumat. Dan semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk tetap melakasanakan shalat lima waktu walaupun kita dalam keadaan yang tidak berdaya sampai waktunya kita dishalatkan.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Rasul akhir zaman khatamaanabii yang menjadi uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia. Dialah Nabi  pembangun peradaban mulia dan penyebar risalah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Salam juga tercurah kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikut Rasulullah hingga akhir zaman. Semoga kita semua mendapatkan syafaat beliau pada yaumul mahsyar nanti, Amin ya Robbal aalamiin…

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, sejak satu pekan belakangan ini setiap pagi hari kita saksikan di jalan-jalan raya banyak anak sekolah yang berseragam berangkat menuju sekolahnya, anak TK, anak SD, anak SMP dan anak – anak SMA / SMK. Tak sedikit orang tua yang mengantar anak-anak mereka. Dari wajah-wajah mereka perpancar sinar kebahagiaan dan keceriaan. Tidak hanya anak sekolah, para pekerja formal dan non formalpun sudah memenuhi jalan raya ketika pagi menyapa, mereka berangkat menjemput rejeki yang telah Allah tetapkan atas mereka.  Sungguh kebahagiaan terpancar dari semangat dan ketekunan mereka.

Betapa tidak, dalam waktu kurang lebih 1 tahun 6 bulan terhitung sejak Maret 2020 sampai sekarang. Sejak pandemi Covid 19 melanda.  Pergerakan kehidupan manusia dibatasi. Dilakukan modifikasi dan adaptasi dalam aktivitas sosial, ekonomi, budaya dan ritual peribadatan. 

Data nasional menunjukan penurunan angka kejadian kasus harian, penurunan jumlah kasus yang dirawat, penurunan angka kematian, dan peningkatan angka kesembuhan. Perubahan angka-angka ini digunakan sebagai indikator untuk menetapkan level atau tingkat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Di kabupaten kita Flores Timur, lewotanah tercinta dari 19 kecamatan tercatat pada satgas covid 19 kabupaten Flores Timur pada tanggal 9 September 2021 pukul 19.00 Wita kemarin masih terdapat 37 kasus yang dirawat. 1 kasus  dirawat di rumah sakit dan selebihnya isolasi mandiri. Alhamdulillah, Angka ini mengalami penurunan yang begitu cepat karena pada pertengahan Juli 2021 Kabupaten Flores Timur pernah mencapai angka tertinggi seprovinsi NTT yakni dengan total kasus harian sekitar 1.200. Rumah sakit sempat mengalami over capacity, pasien menumpuk dalam antrian untuk mendapatkan tempat tidur rawat inap.

 

Maasyiral muslimin wajumratussalahiin rahimakumullah

Dalam menyikapi situasi pandemi saat ini, saya mengajak kita semua untuk kembali introspeksi diri kita masing-masing. Kita melihat ke belakang saat di mana pandemi ini mulai melanda negeri kita, saat pandemi covid 19 mulai melanda daerah kita, desa kita, kampung kita atau saat  di mana kita sakit dan sebagai penderita covid 19 sampai saat ini. Bagaimana sikap kita, apa yang telah kita lakukan terhadap ketentuan Allah SWT ini. Bagaimana keimanan kita akan qada dan qadarNya Allah SWT.

Kaum muslimin.... Mari kita telaah, kita renungkan beberapa situasi dan posisi kita terhadap firman Allah SWT dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi  Muhammad SAW.

Situasi pertama adalah : Di awal kemunculan Virus Corona 19

Pada saat mulai teridentifikasi virus corona 19 dunia pendidikan dan penelitian yang mempelajari makhluk hidup dihebohkan dengan tuduhan asal muasal virus corona 19, ada yang menuduh bahwa virus corona 19 diciptakan oleh orang tertentu atau negara tertentu dalam  laboratorium biokimianya. Virus corona merupakan senjata biologis pemusna massal yang merupakan rekayasa genetika untuk tujuan bisnis global. Mereka mengkultuskan bahwa virus corona diciptakan oleh seseorang atau sebuah lembaga atau negara. Kaum muslimin... Mereka lupa bahwa Yang Maha Pencipta hanyalah Allah. Yang diciptakan Allah adalah makhluk. Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menciptakan makhluk hidup lainnya karena yang diciptakan makhluk adalah benda.

Mari kita perhatikan ayat 26 surah Al – Baqarah

 

إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik” (QS Al-Baqarah: 26).

 

Di sini dijelaskan sesungguhnya Allah tidak merasa segan atau malu untuk membuat perumpamaan bagi sebuah kebenaran dengan seekor nyamuk atau kutu yang sangat kecil, atau bahkan yang lebih kecil dari itu. Termasuk bakteri, kuman, virus dan sebagainya semua adalah ciptaan Allah yang pasti memiliki peran yang tidak sia-sia dalam kehidupan ini. Allah Yang Mahasuci menciptakan makhluknya dengan segala manfaat dan kesempurnaannya.

 

Kaum muslimin jamaah shalat  jumat rahimakumullah....

Situasi kedua adalah : Apa hikmah yang kita peroleh dari pandemi ini?

Bahwa orang-orang yang senantiasa merenungi ciptaan Allah, menjadikan pandemi ini sebagai media bertafakur, berdzikir dan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT

 

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (QS Ali Imran: 191)

 

Kaum muslimin.... dengan ayat ini mari kita tentukan posisi batin kita. Di mana posisi kita saat ini? Apakah kita mengambil hikmah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah? Atau bahkan sebaliknya? Mengingkari kebenaran nash dan memperlakukan situasi pandemi menurut hawa nafsu kita atau hanya dengan sedikit pengetahuan yang kita miliki lantas kita berubah secara mendadak menjadi ahli. Naudzubillahi min zalik.  Kita harusnya lebih sadar akan integrasi keilmuan. Segala jenis ilmu yang ada di bumi dan langit adalah berasal dari satu sumber yakni Allah subhanahu wata’ala. Maka tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan umum. Wabah Corona telah membuka kesadaran manusia adanya kebutuhan akan ilmu agama sebagai benteng keimanan, ilmu kesehatan sebagai upaya penanganan fisik, dan ilmu sosial untuk menjalin kerja sama yang solid dalam menghadapi musibah. Tidak ada yang harus dinafikan, semua bisa bersinergi sebagai bagian dari ilmu-ilmu Allah yang dianugerahkan kepada hamba-Nya.

 

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى

 

“Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah” (QS Thaha: 6)

 

Setiap kali melaksanakan shalat, kita selalu mengawalinya dengan takbiratul ikhram Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Ini bukti pengakuan akan kemahabesaran Allah, dan betapa kecil diri kita di hadapan-Nya. Betapa sangat mudah bagi Allah untuk menjadikan juga membinasakan alam ini. Bagaimana mungkin manusia berhak sombong terhadap-Nya, sedangkan hanya menghadapi bagian terkecil dari makhluknya saja kita sudah kerepotan.

 

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah

Situasi ketiga adalah saat di mana penerapan kebijakan pemerintah dalam rangka percepatan pengendalian dan pencegahan penularan covid 19.

Secara fitrah, kodrati manusia adalah makhluk sosial, manusia yang satu membutuhkan manusia yang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Saling berinteraksi, bercengkrama adalah salah satu kebutuhan manusia. Namun dalam situasi pandemi ini melalui beberapa kebijakan, pemerintah membatasi aktivitas sosial sehingga menimbulkan dampak yang luar biasa besarnya pada semua aspek kehidupan. Masalah akan muncul bila kebutuhan manusia tidak terpenuhi. Dalam situasi ini, di manakah sikap mental kita kaum muslimin? Apakah kita menjadi   marah, gelisah dan khawatir dengan situasi ini bahkan melakukan hal-hal yang bersifat destruktif ? atau sebaliknya ?

 

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah .......

Dalam Al – Qur’an Surah  Al-Baqarah ayat 155 Allah SWT berfirman

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

 

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,

 

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa jika kita bersabar dalam menghadapi segala ujian yang diberikan Allah maka akan kita dapatkan kebaikan hikmahnya. Beberapa penelitian menemukan bahwa Pandemi covid 19 dirasakan seakan menjadi hantu yang sangat menakutkan, manusia menjadi panik. Kepanikan adanya Covid-19 sebenarnya karena takut akan datangnya kematian atas diri manusia. Padahal sebenarnya pandemi covid 19 tak ubahnya seperti banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan jenis musibah atau penyakit lainnya. Mencegah atau mengobati adalah kewajiban manusia sebagai makhluk yang berpikir dan menjadi wujud ikhtiarnya. Namun berhasil atau tidak, menjadi takdir yang Allah tetapkan. Manusia tidak dapat mengelak dari apa yang Allah putuskan.  Sesungguhnya manusia itu sangat dekat dengan kematian. Kematian adalah pasti, yang tidak pasti adalah kapan, di mana dan bagaimana kita mati, olehnya itu kita selalu dianjurkan berdoa agar kita mati dalam keadaan beriman dan husnul khatimah.

Ada beberapa hadits Nabi Muhammad SAW tentang penyakit dan obatnya.

 

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شَفَاءً

 

“Tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya” (HR Bukhari).

Dalam hadits yang lain Dari riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah  dia berkata bahwa Nabi  bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

 

“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah SAW” (HR. Muslim)

 

Maasyral muslimin rahimakumullah

Hadits ini menjelaskan kepada kita untuk terus belajar menemukan obat dari setiap penyakit. Kita tidak boleh tinggal diam apalagi apatis dalam situasi seperti ini. Jika kita tidak mampu belajar menemukan obatnya setidaknya kita ikuti dan patuhi apa yang telah menjadikan kebijakan publik. Jangan apatis apalagi membangkang. Karena kita ingin berubah, kita ingin kembali beraktivitas normal seperti sebelum pandemi maka kita wajib bergandeng tangan untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran virus ini.

 

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ

 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (Q.S. Ar-Ra’d ayat 11).

 

Kita patut bersyukur dengan kemajuan teknologi kedokteran dan kesehatan saat ini, yang dikuatkan dengan kerja sama yang solid dari berbagai unsur maka dalam waktu sekitar 1 tahun dari kejadian pandemi dunia kedokteran dan kesehatan telah menemukan beberapa alternatif pengobatan dan protokol perawatan pasien dan pencegahan penyakit corona termasuk vaksin covid 19.

 

Jamaah jumat yang berbahagiah.....

Hari ini, saat ini kita masih berada dalam situasi pandemi, walaupun tingkat kedaruratannya sudah lebih menurun dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Namun kita hadapkan dengan varian baru yang lebih ganas dari varian delta yakni varian lambda dan varian MU.

Kita masih harus lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, karena kita butuh kebebasan dalam beraktivitas, kita mempunyai keinginan yang kuat untuk kembali kepada kehidupan normal seperti sebelum pandemi. Maka penerapan protokol kesehatan bersifat wajib bagi semua. Sebagai  ikhtiar kita untuk keluar dari pandemi ini, karena kita bisa melakukannya maka penerapan protokol kesehatan dalam bingkai new normal (keadaan normal baru) artinya memakai masker adalah normal, menjaga jarak dalam kerumunan adalah normal dan mencuci tangan adalah hal yang normal. 

Karena kita butuh berkumpul, kita ingin bercengkarama dengan sesama maka kita butuh yang namanya kekebalan massal (herd immunity). Kekebalan massal akan bisa kita dapat jika sekitar  75 - 80 % penduduk memiliki kekebalan terhadap virus corona, kekebalan dapat diperoleh melalui 2 cara yakni kekebalan alami dan kekebalan buatan. Kekebalan alami terjadi jika seseorang telah menderita penyakit corona dan sembuh. Sedangkan kekebalan buatan dapat diperoleh melalui imunisasi atau vaksinasi, Imunisasi adalah memasukan protein atau bagian lain dari virus yang telah dilemahkan atau dimatikan ke dalam tubuh seseorang. Saat ini pemerintah gencar melakukan vaksinasi kepada seluruh rakyat terutama berusia 12 – 60 tahun. Usia ini dipilih menjadi prioritas karena orang-orang pada usia ini termasuk dalam usia produktif, orang pada usia ini memiliki tingkat mobiltas yang lebih tinggi dibandingkan dengan usia dibawah 12 tahun dan di atas 60 tahun. Karena tingkat mobilitasnya lebih tinggi maka risiko untuk terpapar dan menderita covid 19 pun menjadi lebih besar.

Dalam sebuah hadits. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian dari iman.

Berdasarkan hadits ini, menyingkirkan gangguan berupa duri atau hambatan lainnya dari jalan agar orang lain tidak menginjaknya, atau tidak terhalang saja merupakan cabang dari iman, apatah lagi kita melindungi diri kita, dan orang lain melalui vaksinasi. Dengan vaksinansi kita melindungi diri kita dan orang lain untuk terhindar dari infeksi covid 19. Semoga keihklasan kita mengikuti semua program percepatan pembentukan kekebalan massal menjadi pemberat timbangan amal kita kelak.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

sebagai ikhtiar kita dalam menghadapi pandemi ini terutama untuk meningkatkan kekebalan jiwa raga kita, dan sebagai sarana untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT maka Teruslah berzikir kepada Allah untuk menenangkan hati, karena hati akan tenang hanya dengan berzikir kepada Allah. Aala bizikrillahi tatmainnal kulub. Hati yang tenang adalah sumber kekebalan yang besar.

Makanlan makanan yang halalal taiyyiba.  Tidak hanya sekedar dengan gizi seimbang namun Islam lebih menekankan kehalalan dan kebaikan makanan yang dikonsumsi. Susu itu baik, daging itu baik namun akan menjadi tidak baik bila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan.

Dirikanlah shalat minimal 5 waktu sebagai aktivitas fisik yag mendatangkan manfaat untuk jiwa dan raga. Gerakan dalam shalat merupakan gerakan-gerakan yang meningkatkan kerja dan fungsi semua sistem tubuh, terutama organ – organ vital seperti otak, jantung, ginjal dan hati.

Jagalah wudhu, upayakan diri kita selalu dalam keadaan berwudhu. Wudhu itu sangat menyehatkan. Dengan berwudhu tidak hanya mensucikan diri dari hadas namun secara ilmu kesehatan dengan berwudhu kita mencuci bagian-bagian tubuh yang menjadi pintu masuknya kuman, bakteri, virus atau sumber penyakit ke dalam tubuh kita. 

Jadlah muslim yang kuat. Muslim yang otaknya selalu berfikir untuk kebaikan, tagannya sibuk bekerja dan hatinya selalu berzikir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Tua adalah Guru Yang Utama

Renungan Pergantian Tahun Baru Masehi (Materi Khutbah Jumat)