Orang Tua adalah Guru Yang Utama

 

Kaum Muslimim Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah,  segala puji dan syukur kita persembahkan ke haribaan Allah Yang Maha Rahman dan Rahim atas segala  limpahan nikmat-Nya yang tak terbilang. Nikmat Allah itu sungguh luas melampaui samudra, lebih-lebih nikmat iman dan Islam sebagai permata paling berharga dalam hidup kita selaku Mukmin.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Rasul akhir zaman yang menjadi uswah hasanah seluruh umat manusia. Dialah Nabi  pembangun peradaban mulia dan penyebar risalah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Salam juga tercurah kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikut Rasulullah hingga akhir zaman.  semoga kita semua mendapatkan syafaat beliau pada yaumul mahsyar nanti, Amin ya Robbal aalamiin…

Mengawali khutbah ini, sebagai khatib saya berwasiat kepada saudara-saudara sekalian dan kepada diri saya hendakhlah kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT, sebab dengan jalan ini kita semua akan menjadi manusia yang memperoleh kebahagiaan selama di dunia yang fana ini sampai di akhirat yang baka dan akhirnya dapat masuk dalam surganya Allah bersama keluarga yang kita cintai.

Tema khutbah jumat kita pada kesempatan ini adalah  Orang Tua Adalah Guru Yang Utama

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Tepat pada tanggal 13 Juli 2020 (sekitar 4 pekan yang lalu), proses belajar mengajar untuk tahun pelajaran 2020/2021 di Republik tercinta ini telah dibuka, sekolah pada semua jenjang pendidikan dibuka, walaupun dengan metode pembelajaran yang bervariasi antar daerah, antar jenjang pendidikan dan antar satuan pendidikan. Ada sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di kelas dengan sistem shift, ada yang tatap muka di luar sekolah, dengan mengelompokkan siswa di rumah-rumah siswa atau tempat umum dan yang lebih banyak dilakukan adalah belajar dari rumah atau pendidikan jarak jauh, belajar daring, belajar online. Atau kombinasi dari tatap muka dan pendidikan jarak jauh.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Banyak kalangan menilai bahwa belajar dari rumah atau pendidikan jarak jauh adalah salah satu strategi yang cukup aman dalam memenuhi hak anak untuk memperoleh pendidikan dalam situasi pandemi covid 19 ini. Namun kenyataannya tidak kalah banyak juga kita temukan  dampak dari strategi atau kebijakan ini, kita baca, kita dengar, kita saksikan ada orang tua yang mengeluh harus membeli lagi handphone (smart phone) karena anaknya lebih dari 1 orang dan semuanya membutuhkan smart phone, ada lagi yang mengeluh harus membeli kuota internet setiap pekan, ada juga sekelompok siswa yang harus berjalan kaki beberapa kilo meter mencari signal. Dan yang lebih banyak kita saksikan atau bahkan kita rasakan atau kita alami yakni sebagai orang tua harus menyiapkan diri untuk mengajar anak-anaknya di rumah.  Bisa dibayangkan pada saat jam-jam sibuk bekerja si anak minta diajarkan oleh ayah atau ibunya, syukur kalau ayah ibunya paham tentang materi yang sedang dipelajari anaknya, parahnya jika ayah atau ibu tidak paham atau tidak menguasai materi yang sedang dipelajari anaknya maka yang terjadi adalah kemarahan dan akan keluar dari mulut ayah ibunya kata – kata kasar bahkan cacian.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT

Orang tua dalam situasi pademi covid 19 saat ini dipaksa melakoni peran baru menjadi seorang guru yang harus mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya. Mengajarkan akhlak, mengajarkan iman dan mengajarkan ilmu kepada anak-anaknya. Dimana orang tua tidak punya kompetensi untuk itu sehingga yang terjadi adalah orang tua merasa kerepotan, marah, gelisah, stress dan perasaan negatif lainnya. Di saat ini banyak orang tua baru menyadari betapa sulitnya menanamkan disiplin kepada anak-anaknya padahal anaknya hanya 1 atau 2 orang saja.  Dahulu kita pernah menyalahkan guru bahkan melaporkannya ke poliisi ketika guru menegakan kedisiplinan kepada siswanya di sekolah yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan orang.

 

Kaum muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya mengajar. Dalam bahasa Inggris disebut teacher yakni  a person whose occoptionis teaching other (MC Leod, 1989), guru adalah sesorang yang pekerjaannya mengajar orang lain. Ada pendapat yang lebih luas Menurut Madyo Ekosusilo, yang dimaksud dengan guru atau pendidik adalah seorang yang bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan secara sadar terhadap perkembangan kepribadian dan kemampuan peserta didik baik itu dari aspek jasmani maupun rohaniyah agar ia mampu hidup mandiri dan dapat memenuhi tugasnya sebagai makhluk tuhan sebagai individu dan juga sebagai makhluk sosial. (Madiyo Ekosusilo, 1998: 51)

Kaum muslimin, Jika memperhatikan defenisi tentang guru di atas maka kita semua termasuk orang tua, ayah ibu adalah seorang guru. Guru bagi anak-anak kita, guru bagi anggota keluarga, lingkungan dan masyarakat kita.  Lebih jauh dari ini Allah SWT memerintahkan kita lewat firmannya dalam beberapa ayat Al-Qur’an diantaranya surah An Nisa ayat 9.

 

 

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS An Nisaa (4) : 9)”

 

Ayat yang lain adalah surah Attahrim (66) : 6

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS Attahrim (66) : 6).

 

Kedua ayat ini menegaskan tugas dan tanggungjawab orang tua sebagai guru dalam keluarganya. Menyiapkan jasmani dan rohani anak-anaknya untuk berbakti beribadah kepada Allah SWT. Anak adalah amanah yang Allah titipkan kepada orang tuanya yang harus tunaikan dengan berbakti kepada Allah. Perintah memelihara diri dan keluarga dari api neraka adalah dengan mengerjakan semua yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Bukti kecintaan orang tua kepada anak-anaknya adalah mengajar dan mendidik anak-anaknya untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT di dunia dan hingga berkumpul dalam surganya Allah kelak.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Mengajar dan mendidik anak-anak sendiri bukanlah perkara yang mudah. Banyak orang mengatakan “lebih mudah mengajar anak orang lain daripada anak sendiri”. Ini adalah sebuah realita sosial yang mengemuka. Membentuk kepribadian anak tidak bisa dilakukan secara instan atau seketika namun melalui sebuah proses panjang yang terencana sejak dalam kandungan ibunya.

Usia yang sangat kritis dan sensitif namun sebagai penentu keberhasilan hidup di masa depan adalah usia pubertas (usia 10 – 15 tahun) di usia ini terjadi banyak  perubahan  baik perubahan hormonal, perubahan fisik, perubahan psikologis dan perubahan sosial.  Perubahan  ini  terjadi  dengan  sangat  cepat dan terkadang tanpa kita sadari. Perubahan fisik yang menonjol adalah perkembangan tanda-tanda seks sekunder,  terjadinya  pacu  tumbuh,  serta  perubahan  perilaku dan hubungan sosial dengan lingkungannya. Perubahan psikososial yag terjadi adalah perubahan tingkah laku, hubungan dengan lingkungan serta ketertarikan dengan lawan jenis. Perubahan-perubahan tersebut juga dapat menyebabkan hubungan antara orangtua dengan anak menjadi sulit apabila orangtua tidak memahami proses yang terjadi.

Ada beberapa tanda perubahan psikososial yang perlu kita perhatikan antara lain : terjadinya krisis identitas, anak akan menyadari dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, Jiwa yang labil, Meningkatnya kemampuan verbal untuk ekspresi diri, Pentingnya teman dekat/sahabat, Berkurangnya  rasa  hormat  terhadap  orangtua,  kadang-kadang berlaku kasar, Menunjukkan kesalahan orangtua, mencari  orang  lain  yang  disayangi  selain  orangtua, Kecenderungan untuk berlaku kekanak-kanakan, dan Terdapatnya pengaruh teman sebaya (peer group) terhadap hobi dan cara berpakaian.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Sebagai orang tua, sebagai guru yang utama dalam keluarga kita dituntut untuk memahami perkembangan karakter anak kita, bangun komunikasi yang hangat dan tidak menghakimi. Gunakan perkataan yang lembut. Jadilah sahabat, jadilah tempat curhat anak-anak kita. Teruslah berusaha dan berusaha membawa anak-anak kita ke jalan yang mendekatkannya dengan Allah SWT. Mulailah dari diri kita dengan memberikan contoh dan ajaklah mereka untuk bersama kita melakukan kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT.

Setelah berusaha secara maksimal, guna mencapai cita – cita kita. Maka di sepertiga malam bangunlah dan bangunkan anak-anak untuk bersama melakukan shalat tahajjud, saatnya kita menghadap Rabb kita, kita haturkan doa-doa kita, cita – cita kita dan harapan-harapan kita, karena doa yang mengiringi Tahajjud akan dikabulkan oleh yang Maha Mengabulkan. Sebutkan nama anak-anak kita dalam doa-doa terbaik kita.

Rasulullah SAW bersabda

“sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki; seseorang yang bangun pada tengah malam yang dingin dari ranjang dan selimutya, lalu ia berwudhu dan melakukan shalat. Allah berfirman kepada para malaikat-Nya : apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini? Mereka menjawab : Wahai Rabb kami, Ia melakukan ini karena mengharapkan apa yang ada di sisi-Mu. Allah berfirman : Sesungguhnya Aku telah membrikan kepadanya apa yang ia harapkan (cita-citakan) dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan”. (HR Ahmad)

 

Kaum muslimin rahimakumllah

Demikian khutbah singkat yang dapat kami sampaikan semoga ada manfaatnya terutama sebagai pengingat diri kami pribadi dalam mendidik anak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vaksinasi Covid 19 Sebagai Ikhtiar Dalam Ketaatan Kepada Allah SWT

Renungan Pergantian Tahun Baru Masehi (Materi Khutbah Jumat)