Renungan Pergantian Tahun Baru Masehi (Materi Khutbah Jumat)
Tahun Baru Momentum Untuk Mengingat Kematian
Oleh : Dr. H. Ahmad Muhammad Kasim, M. Kes
Khutbah Jumat, 14 Januari 2022 M / 12 Jumadil Akhir 1443 H
Masjid Jami Baburrahman Waiburak
Maasiral Muslimin Wajumratussalihiin Rahamkumullah
Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim atas segala limpahan nikmat-Nya. Terutama nikmat Iman dan nikmat Islam. Dengan nikmat inilah kita dimudahkan oleh Allah SWT untuk datang ke masjid yang mubarak ini untuk melaksanakan shalat Jumat dan in syaa Allah memperoleh keberkahan atas keutamaan hari Jumat.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Dan semoga kita semua mendapatkan syafaat beliau pada yaumul mahsyar nanti, Amin ya Rabbal aalamiin…
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, hari ini kita berada pada Jumat ke-2 di tahun 2022 miladiyah, 14 Januari 2022 miladiyah bertepatan dengan 12 Jumadil akhir 1443 hijriyah. Tidak terasa kita sudah berada pada pertengahan bulan namun masih segar diingatan kita apa saja atau bagaimana kita menyambut atau merayakan detik - detik pergantian tahun. Bunyi petasan, kembang api, meriam bambu, meriam kaleng menjadi tanda berakhirnya masa 2021 dan bermulanya tahun 2022. Sejarah mencatat bahwa tidak ada satupun riwayat dalam islam yang menceritakan tentang perayaan malam pergantian tahun masehi. Perlu kita ketahui bahwa perayaan tahun baru tercatat pertama kali dilakukan sekitar 4.000 tahun yang lalu oleh masyarakat Babel, Mesopotamia. Pada masa itu, tahun baru yang mereka rayakan jatuh setiap akhir bulan Maret, pada masa pergantian musim. Mereka mengikuti tradisi keagamaan yang disebut Akitu. Tradisi ini dilakukan selama 11 hari berturut-turut dengan berbagai rangkaian ritual yang berbeda-beda pada tiap harinya. Masyarakat mengarak patung-patung dewa ke jalan-jalan kota dan mereka percaya dengan cara ini, masyarakat Babilonia telah dibersihkan untuk mempersiapkan tahun baru dan musim semi baru. Kemudian berkembang sampai jaman Romawi kuno ketika kaisar Julius Caesar berkuasa, ia menetapkan 1 Januari sebagai hari pertama tahun. Dengan alasan untuk menghormati dewa Janus maka dipilih nama Januari atau Januarius. Kalender yang digunakan waktu itu adalah kalender Julius yang dibuat dengan mengikuti revolusi matahari. Namun dinilai terjadinya musim semi lebih cepat dan mengganggu perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325 maka Dr. Aloysius Lilius mencetuskan Kalender Gregorius dengan persetujuan Paus Gregorius XIII, pada tanggal 24 Februari 1582. Dan kalender itu yang digunakan sampai dengan sekarang.
Kaum muslimin..... dari sejarah singkat ini kita ketahui bahwa perayaan malam pergantian tahun masehi bukan ajaran islam namun sayangnya masih ada saudara-saudara kita yang ikut merayakan dengan cara yang tidak islami, yang sangat disayangkan adalah kita merayakan malam tahun baru dengan pesta miras, joget bahkan perkelahian. Dan lebih parahnya lagi hal ini dilakukan di depan keluarga, di depan isteri yang saleha dan anak-anak yang masih sangat lugu. Naudzu billahi minzalik summa naudzu billah.
Beberapa ulama kontemporer membolehkan perayaan pergantian tahun baru masehi asal dengan cara-cara yang islami. Bagi kebanyakan lembaga atau kantor pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi atas agenda dan program kerja yang telah direncanakan sebelumnya dan merencanakan agenda untuk satu tahun kedepannya. Bagi diri secara pribadi momentum pergantian tahun harusnya menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi diri kita sendiri sudah seperti apa kita melaksanakan tugas sebagai hamba Allah di atas bumi ini, sudah seperti apa kita menjalankan hidup ini sebagaimana tujuan kita diciptakan.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-zariyat :56).
Kaum muslimiin jamaah shalat Jumat rahamakumullah
Pergantian hari ke hari, bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun itu menunjukan bahwa usia kita terus bertambah yang berarti jatah hidup kita terus berkurang. Hal yang harus menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagaimana dengan amal kebaikan kita, bekal apa yang telah kita siapkan untuk kembali ke kahirat kelak? Apakah perbuatan kita lebih banyak mengikuti perintah Allah dan RasulNya? Atau bahkan kebalikannya lebih banyak amal perbuatan kita yang melanggar perintah Allah dan rasulNya? Karena hidup dunia ini hanya sementara, dunia ini fana dunia akan sirna. Kehidupan yang kekal adalah akhirat. Jangan sampai usia kita bertambah namun ibadah kita tetap konstan atau bahkan menurun, bahkan kita lebih banyak menghabiskan umur kita dengan bermaksiat kepada Allah swt.
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (QS : Al-baqarah : 28)
Kaum muslimiin, Sesungguhnya seorang mukmin yang mendapatkan taufiq adalah seorang yang menjadikan perubahan kondisi-kondisi sebagai kesempatan untuk ingat, merenungkan, dan mengambil pelajaran. Maka iapun menghisab dirinya, ia memperbaiki kondisinya dan meluruskan arah perjalanannya. Maka binasanya hati seseorang tatkala lalai untuk menghisab dirinya dan mengikuti hawa nafsunya. Sebagai Muslim, kita harus terus berupaya memperbaiki amalan kita setiap harinya. Tentu saja kita tidak ingin menjadi orang yang merugi, melainkan orang yang beruntung. Orang merugi disebutkan adalah orang yang amal baiknya tetap segitu-gitu saja, tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Sementara orang beruntung adalah orang yang mampu meningkatkan amal-amal baiknya setiap waktu. Maka wajib bagi kita dengan bertambahnya umur bertambah pula ketaatan dan perbuatan kebajikan, hendaknya kita mengisi hari – hari kita untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta sedekat-dekatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خَيْرُكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُه
“Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).
Diantara kezaliman yang sangat jelas serta kerugian yang nyata adalah Allah telah menganugerahi kepada kita usia lantas kita tenggelam dalam kemaksiatan dan tetap berada pada apa yang tidak diridhai Allah
Allah swt memberikan petunjuk kepada kita melalui surah Al Ashr ayat 1 – 3 agar kita tidak menjadi orang – orang yang merugi.
وَالْعَصْرِۙ) ۱ (اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ )۲ (اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)ࣖ۳
“(1) Demi masa, (2) sungguh, manusia berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al Ashr : 1 – 3).
Manusia yang tidak merugi adalah orang yang senantiasa melaksanakan amal-amal saleh, saling mengingatkan untuk melakukan kebenaran dan bersabar. Poin-poin inilah yang harus menjadi pedoman kita agar sepanjang tahun 2022 dan seterusnya, kita terus beruntung. Sebab, potensi kerugian kita sebagai manusia sangat banyak karena faktor kelalaian hingga godaan yang terus menerus menghantui. Kita harus berani meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah dan RasulNya. Yang tadinya kita shalat lima waktu di rumah maka kita harus merubahnya untuk shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Sebagai laki-laki kita harus berani berbuat dan mengatakan “gue laki gue shalat berjamaah di masjid”, yang tadinya kita masih kurang bersedekah maka mulai sekarang kita harus rajin bersedekah, sungguh sangat banyak manfaat sedekah bagi pelakunya, sedekah yang paling mudah adalah senyum. Yang tadinya kita masih memutuskan tali silaturahmi dengan saudara bahkan dengan orang tua maka mulai sekarang kita maafkan mereka dan mendatangi mereka sembari menyambung tali silaturahmi, sungguh sangat banyak faedah silaturahmi apalagi kita sampai mendapatkan restu dan ridha dari orang tua.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Sikap menerima nasehat dan masukan dari orang lain dengan lapang dada merupakan akhlak yang mulia. Itu merupakan ciri kebersihan hati serta tanda sifat tawadhu, merupakan cerminan kesadaran akan kekurangan diri sebagai manusia yang tidak sempurna. Sebaliknya, kalau orang yang sombong, bila dinasehati ia malah akan melawan dan meradang.
وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ
“Dan apabila dikatakan kepadanya "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya” (QS. Al-baqarah : 206).
Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda
“Sesungguhnya termasuk dosa yang paling besar adalah ketika seseorang berkata kepada saudaranya, “Takutlah kepada Allah, lalu dia menjawab saudaranya itu: “Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi).
Kaum muslimin Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah
Spirit atau semangat kita dalam memperjuangkan keberuntungan di tahun 2022 ini perlu dikobarkan. kita perlu muhasabah, kita butuh refleksi, kita wajib introspeksi diri kita. Kita harus memanfaatkan setiap waktu kita dengan hal-hal yang baik, kita isi waktu kita dengan hal-hal yang berguna. Sebab, waktu, menurut pepatah orang Barat, adalah uang. Bagi orang Arab, waktu adalah pedang. Jika kita tidak bisa memanfaatkannya secara baik, maka waktu akan menebas kita. Rasulullah SAW berpesan :
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kecukupanmu sebelum engkau miskin, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, kehidupanmu sebelum kematianmu.” (HR. Al-Haakim).
Jamaah Shalat Jumat Yang Dirahmati Allah SWT
Untuk perkara masa kecukupan, masa sehat dan waktu luang bisa kita terjemahkan masing-masing berdasarkan kemampuan kita. Sehingga kita tidak perlu bahas di sini. Namun masa muda dan kehidupan sebelum kematian diatur secara rinci oleh Allah swt dan rasulNya. Mengenai masa muda dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda :
“Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba hingga ia ditanya tentang 5 perkara, tentang umurnya kemana ia habiskan?, tentang masa mudanya kemana ia habiskan?, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia gunakan?, tentang ilmunya apa yang ia telah amalkan?” (HR. At-Tirmidzi),
Umur akan ditanya dan diminta pertanggung jawaban untuk apa dihabiskan. Masa muda termasuk dalam umur, akan tetapi selanjutnya, masa muda kembali ditanyakan dan diminta pertanggung jawaban secara khusus karena masa muda adalah masa mencari jati diri, masa membuktikan eksistensi, masa mencari perhatian dan masa penuh semangat dan bergairah, akan tetapi dibalik semangat ini perlu kontrol dan perlu pembinaan agar tidak berlebihan dan keluar dari bimbingan syariat dan jalan ketaatan. Dengan keunggulan dan kelebihan pada usia muda seperti semangat masih membara, tenaga masih kuat, pikiran masih fresh dan tekad yang kuat, masa muda akan diminta pertanggung jawabannya secara khusus karena “Para pemuda pada setiap umat manapun, mereka adalah tulang punggung yang membentuk unsur pergerakan dan dinamisasi. Pemuda mempunyai kekuatan yang produktif, kontribusi yang terus menerus. Tidak akan bangkit suatu umat umumnya kecuali ada di pundak para pemuda yang punya kepedulian dan semangat yang menggelora.
Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah
Sedikitnya ada tiga hal yang bisa kita lakukan dalam kehidupan ini sebagai persiapan diri kita sebelum menghadapi kematian?
Pertama, beramal sebaik mungkin. Dalam surat Al-Mulk ayat 1-2, Allah berfirman:
تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ
‘Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.
Pertanyaan kemudian muncul adalah Seperti apakah amalan yang terbaik itu? Salah satu indikatornya adalah, pekerjaan itu dilakukan dengan istiqamah. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
فَإِنَّ خَيْرَ الْعَمَلِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
Artinya; sesungguhnya sebaik-baik pekerjaan adalah yang rutin (berkelanjutan), meskipun itu sedikit. Misalnya kita istiqomah untuk shalat berjamaah di masjid, segera memberi maaf dan menyambung tali silaturrahim, setiap hari shalat duha walaupun hanya 2 rakaat, atau puasa sunat setiap hari senin dan kamis dan bersedekah setiap subuh walaupun hanya seribu rupiah serta membaca Al qur’an setiap selesai shalat walaupun hanya 1 ayat..
Beramal sebaik mungkin juga berarti bahwa pekerjaan itu kita lakukan dengan seikhlas mungkin, semaksimal mungkin dan dengan sesempurna mungkin. Baik dalam interaksi kita kepada Allah maupun kepada sesama manusia, dalam tiap amal kita patrikan dalam diri kita bahwa bisa jadi itu adalah amal terakhir kita.
Yang kedua, menyiapkan amal yang terus mengalir pahalanya. Di antara yang dapat kita persiapkan adalah dengan memperbanyak amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta mendidik anak kita menjadi anak yang saleh salehah yang akan mendoakan kita kelak. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: ((إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ))؛ رواه مسلم
Artinya: diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang selalu mendo`akan orang tuanya. (HR. Muslim).
Yang ketiga, berdoa agar diberikan husnul khatimah. Pertanyaan yang kemudian adalah apakah husnul khatimah itu? Di antara tanda utama husnul khatimah ialah apabila ia mengucap kalimat laa ilaaha illallaah di akhir hayatnya. Dalam sebuah hadith shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda:
” مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ ”
“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallaah’ maka dia akan masuk Surga.”
Indikator lainnya dari seorang yang husnul khatimah apabila ia mengerjakan pekerjaan baik di akhir hidupnya.
قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ” إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ ” . فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ ” يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ” ”
Rasulullah SAW bersabda: Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan membuatnya beramal. Para sahabat bertanya; Bagaimana membuatnya beramal? beliau menjawab: Allah akan memberikan taufiq padanya untuk melaksanakan amal shalih sebelum dia meninggal. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Selain berusaha dengan segenap amal saleh untuk mencapai husnul khatimah, kita juga harus selalu berdo’a agar Allah mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah.
Kaum muslimin, semoga kita menjadi hamba Allah yang berhasil dalam mempersiapkan kehidupan kita, yang mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. dan Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Komentar
Posting Komentar